11 Jendral Terhebat Dalam Sejarah Islam

11 Jendral Terhebat Dalam Sejarah Islam

1. SALAHUDDIN AL AYYUBI

Dunia mengenalnya sebagai salah satu tokoh pemimpin terbesar. Dialah juga merupakan salah satu tokoh terbesar dalam Perang Salib. Namanya dikenal luas takkala ia dapat menaklukkan kerajaan Jerusalem yang ketika itu dipimpin oleh Guy The Lusignan Raja Jerusalem. Pasukan Shalahuddin dikenal sebagai pasukan yang pemberani dibawah pimpinannya. Bernama lengkap Salahuddin Al-Ayubi yang dikenal didunia barat sebagai Saladin terlahir dari keluarga Kurdish di kota Tikrit (140km barat laut kota Baghdad) dekat sungai Tigris pada tahun 1137M. Masa kecilnya selama sepuluh tahun dihabiskan belajar di Damaskus di lingkungan anggota dinasti Zangid yang memerintah Syria, yaitu Nur Ad-Din atau Nuruddin Zangi.

2. ABDULLAH BIN AAMIR

Abdullah bin Aamir (bahasa Arab:عبدالله بن عامر ) adalah gubernur Busrha (647–656) dan merupakan jenderal militer yang sangat sukes pada masa pemerintahan Khalifah Rasyidin Utsman bin Affan. Dia dikenal atas kehebatannya dalam administrasi dan militer.

3. AMR BIN ASH

Namanya adalah Amr bin Ash bin Wail bin Hisyam bin Said bin Sahm al-Qurasyi as-Sahmi. Di antara jasa besarnya adalah ketika Umar bin Khattab mengamanatinya untuk menaklukkan Mesir, dan dia berhasil menunaikan amanat tersebut. Amr merupakan salah seorang pahlawan bangsa Arab yang sangat terkenal, sekaligus seorang politisi yang cemerlang. Terkenal dengan kecerdasan dan kepintarannya mengatur siasat.

4. TARIQ BIN ZIYAD

Thariq bin Ziyad (670 – 720) (Bahasa Arab: طارق بن زياد), dikenal dalam sejarah Spanyol sebagai legenda dengan sebutan Taric el Tuerto(Taric yang memiliki satu mata), adalah seorang jendral dari dinasti Umayyah yang memimpin penaklukan muslim atas wilayah Al-Andalus (Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar dan sekitarnya) pada tahun 711 M.

5. SYURAHBIL BIN HASANAH

Adalah sahabat Rasulullah SAW. Dia merupakan salah satu komandan tersukes dalam pasukan Rasyidin, bertugas di bawah Khalifah Rasyidin Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Dia merupakan salah satu komandan lapangan utama selama penaklukan Muslim di Suriah, bertugas sejak tahun 634 hingga kematiannya pada tahun 639 akibat wabah.

6. KHALID BIN WALID

Khalid ibn al-Walid, atau sering disingkat Khalid bin Walid, adalah seorang panglima perang pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin yang termahsyur dan ditakuti di medan perang serta dijuluki sebagai Saifullah Al-Maslul (pedang Allah yang terhunus). Dia adalah salah satu dari panglima-panglima perang penting yang tidak terkalahkan sepanjang kariernya, terkenal sebagai panglima tertinggi untuk Nabi Muhammad dan penerus-penerusnya. Dibawah kepemimpinan militernya lah Arabia untuk pertama kalinya dalam sejarah membentuk entitas politik yang bersatu, Kekhalifahan.

Mengkomandani pasukan muslim yang baru, dia tak terkalahkan lebih dari seratus pertempuran termasuk melawan Kekaisaran Byzantium, Kekaisaran Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka termasuk juga suku-suku Arab di luar kekuasaan Khalifah. Pencapaian strategis dia ialah penaklukan Arab, Persia Mesopotamia dan Suriah Romawi hanya dalam waktu empat tahun pada tahun 632 ke 636. Kemenangan-kemenangan yang terkenal darinya ialah kemenangan telak pada Pertempuran Yamama, Pertempuran Ullais dan Pertempuran Firaz, dan kesuksesan taktis pada Pertempuran Walaja dan Pertempuran Yarmuk.

7. MUHAMMAD AL FATIH

Muhammad al-Fatih adalah salah seorang raja atau sultan Kerajaan Utsmani yang paling terkenal. Ia merupakan sultan ketujuh dalam sejarah Bani Utsmaniah. Al-Fatih adalah gelar yang senantiasa melekat pada namanya karena dialah yang mengakhiri atau menaklukkan Kerajaan Romawi Timur yang telah berkuasa selama 11 abad.

Sultan Muhammad al-Fatih memerintah selama 30 tahun. Selain menaklukkan Binzantium, ia juga berhasil menaklukkan wilayah-wilayah di Asia, menyatukan kerajaan-kerajaan Anatolia dan wilayah-wilayah Eropa, dan termasuk jasanya yang paling penting adalah berhasil mengadaptasi menajemen Kerajaan Bizantium yang telah matang ke dalam Kerajaan Utsmani.

8. SA’AD BIN ABI WAQQAS

Kepahlawanan Sa’ad bin Abi Waqqas tertulis dengan tinta emas saat memimpin pasukan Islam melawan melawan tentara Persia di Qadissyah. Peperangan ini merupakan salah satu peperangan terbesar umat Islam.

Bersama tiga ribu pasukannya, ia berangkat menuju Qadasiyyah. Di antara mereka terdapat sembilan veteran perang Badar, lebih dari 300 mereka yang ikut serta dalam ikrar Riffwan di Hudaibiyyah, dan 300 di antaranya mereka yang ikut serta dalam memerdekakan Makkah bersama Rasulullah. Lalu ada 700 orang putra para sahabat, dan ribuan wanita yang ikut serta sebagai perawat dan tenaga bantuan.

Pasukan ini berkemah di Qadisiyyah di dekat Hira. Untuk melawan pasukan Muslim, pasukan Persia yang siap tepur berjumlah 12O ribu orang dibawah panglima perang kenamaan mereka, Rustum.

9. ABU UBAIDAH BIN ALJARRAH

Abu Ubaidah bin al-Jarrah adalah Muhajirin dari kaum Quraisy Mekkah yang termasuk paling awal untuk memeluk agama Islam. Ia ikut berhijrah ke Habasyah (saat ini Ethiopia) dan kemudian, Ia hijrah ke Madinah. Ia mengikuti setiap pertempuran dalam membela Islam. Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, Ia merupakan salah satu calon Khalifah bersama dengan Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Setelah terpilihnya Abu Bakar ra. sebagai Khalifah, Dia ditunjuk untuk menjadi panglima perang memimpin pasukan Muslim untuk berperang melawan Kekaisaran Romawi. Ia meninggal disebabkan oleh wabah penyakit.

10. ZUBAIR BIN AWWAM

Namanya adalah az-Zubeir bin Awwâm bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai Radhiyallahu anhu. Nasabnya bersambung dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Qushai. Sedangkan ibunya bernama Shafiyah binti Abdul Muthallib Radhiyallahu anhuma, bibi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dia memiliki kunyah (nama panggilan) Abu `Abdillâh. Az-Zubeir bin Awwâm masuk Islam ketika berumur delapan tahun.[1]

Az-Zubeir bin Awwâm Radhiyallahu anhu adalah Sahabat yang pemberani. Dia termasuk salah satu Sahabat yang mendapat janji masuk surga. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِي الْجَنَّةِ

Abu Bakar berada di surga, Umar berada di surga, Utsmân berada di surga, Ali berada di surga, Thalhah berada di surga, Zubeir berada di surga…

Dia juga termasuk salah satu dari enam Sahabat ahli syura` dalam pemilihan khalifah setelah Umar Radhiyallahu anhu.

Dia adalah orang yang pertama kali menghunus pedangnya di jalan Allah Azza wa Jalla [2] ; mengikuti perang Badar, perang Uhud serta seluruh peristiwa bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia termasuk orang yang menarik dan banyak memiliki usaha. Dia memiliki 1000 budak yang selalu membayar upeti kepadanya. Dari segi fisik dia sangat tinggi hingga apabila dia berkendaraan, kakinya menyapu tanah. Az-Zubeir Radhiyallahu anhu meninggal dunia di tangan Ibnu Jurmuz dalam suatu pembunuhan yang licik setelah perang Jamal di lembah as-Saba`, yaitu nama daerah sejauh tujuh farsakh (kurang lebih 35 KM) dari Bashrah pada bulan Jumadil ula tahun 36 H [3].

Berikut ini adalah kisah keberanian az-Zubeir:
Dalam perang Uhud, dia melakukan perang tanding melawan Thalhah bin Abi Thalhah al-Abdari, kisahnya demikian : Dua fihak yang bermusuhan itu saling mendekat untuk memulai tahapan-tahapan perang yang akan berkecamuk. Yang pertama kali menyulut bara pertempuran itu adalah pembawa bendera dari kalangan musyrikin, yang bernama Thalhah bin Abu Thalhah al-Abdari. Dia adalah penunggang kuda suku Quraisy yang paling berani. Orang-orang Muslim menyebutnya kabsyul katîfah (panglima berkuda terhebat). Dia keluar dengan menunggang unta, lalu menantang untuk perang tanding. Namun tak seorang pun yang segera menyambut tantangannya, karena takut terhadap keberaniannya itu. Akhirnya, az-Zubair maju menghampirinya ; dia tidak maju dengan perlahan-lahan melainkan langsung melompat seperti seekor singa. Az-Zubair pun berada di atas unta Thalhah ; kemudian mereka jatuh. Az-Zubair membanting Thalhah, lalu membunuhnya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyaksikan perang tanding yang sangat mengagumkan ini ; seketika beliau bertakbir yang kemudian diikuti oleh semua orang Muslim. Beliau memuji Zubeir Radhiyallahu anhu dan bersabda: “Sesungguhnya setiap nabi itu memiliki hawâri [4] (pengikut setia), adapun pengikut setiaku adalah az-Zubeir Radhiyallahu anhu [5] ”

Pada perang Badar al-Kubra, Zubeir Radhiyallahu anhu berkata: “Aku berjumpa Ubâdah bin Sa`d al-Ash pada perang Badar. Saat itu ia membawa senjata, dan bagian badannya tidak ada yang terlihat kecuali kedua matanya. Aku pun membawa tombak ke arahnya. Kemudian aku tusuk kedua matanya hingga dia mati. Saat itu aku meletakkan kakiku pada tubuhnya, sungguh susah sekali bagiku untuk menusuknya. [6]”

Az-Zubeir juga mengikuti perang Yarmuk. Dia adalah Sahabat yang paling utama dalam perang tersebut. Dia termasuk tokoh pasukan kuda dan orang yang pemberani di antara mereka. Sekelompok pasukannya berkumpul di hadapannya dan berkata: “Pimpinlah kami untuk menerobos barisan musuh, kami akan ikut di belakangmu. Zubeir Radhiyallahu anhu bertanya: “Apakah kalian sudah mantap?” mereka menjawab: “Ya” kemudian Zubeir Radhiyallahu anhu dan mereka pun berangkat menggempur pasukan musuh. Tatkala mereka menghadapi dan barisan-barisan pasukan Rum, mereka pun mundur dan Zuberi Radhiyallahu nahu pun maju. Belum lama dia menerobos barisan-barisan pasukan, Zubeir Radhiyallahu anhu muncul kembali dari sisi yang lain dan kemudian kembali menuju para Sahabatnya. Kemudian mereka datang kepadanya kedua kalinya dan dia pun melakukan hal sama hingga ketika itu ia pun terkena dua luka pada bahunya. (al-Bidâyah wan Nihâyah 3-4/14)”

Zubeir Radhiyallahu anhu termasuk orang yang mentaati panggilan Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya setelah tertimpa luka Dalam perang Uhud. Allah Azza wa Jalla berfirman:

الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ

(yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.[al-Imrân/3:172]

Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata kepada Urwah bin Zubeir Radhiyallahu anhuma (anaknya Zubeir): “Wahai anak saudariku, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami sesuatu seperti dalam perang Uhud, yaitu ketika orang-orang musyrik mundur, beliau khawatir mereka akan kembali. Kemudian beliau berkata: “Siapa yang akan menghadapi mereka.” Di antara mereka dipilih 70 orang termasuk Abu Bakar dan Zubeir Radhiyallahu anhuma [7] ”

Imam al-Bukhâri meriwayatkan perkataan `Urwah bin az-Zubeir Radhiyallahu anhu bahwa “Pada waktu perang Ahzab (yaitu tatkala kaum Quraisy dan orang-orang yang bersamanya melakukan pengepungan terhadap kaum Muslimin di Madinah dengan cara membuat parit), aku dan Umar bin Maslamah bin `Abdul Asad ditempatkan dibenteng bersama para wanita dan anak-anak[8] . Umar bin Maslamah menundukkan punggungnya, dan aku pun bisa melihat. Aku melihat ayahku datang dan pergi’ ke bani Quraidzah sebanyak dua atau tiga kali. Tatkala sore hari dia datang kepada kami, aku berkata: “Wahai ayah, aku melihatmu datang dan pergi”. Zubeir Radhiyallahu anhu menjawab, “Apakah engkau melihatku, wahai anakku.?”. Aku menjawab, “Ya”. Ia berkata lagi, “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Barang siapa yang mendatangi bani Quraidzah, hendaknya dia datang kepadaku dengan membawa berita mereka. Aku pun berangkat.” Ketika aku pulang, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan kedua orang tuanya untukku. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Tebusanmu adalah ayah dan ibuku”[9] “

Di antara manaqibnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan syahâdah (rekomendasi) kepadanya dengan mati syahid. (ash-Shahâbah 278). Dia memperoleh syahid sebagaimana dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa tatkala perang jamal Ali mengingatkan apa yang dia ingat. Kemudian dia kembali dari peperangan dan pulang ke Madinah. Di tengah perjalanannya dia dibunuh oleh Ibnu Jurmûz laknatullâh dan kepalanya pun terpotong. Ia membawanya ke Ali Radhiyallahu anhu dan dia mengira akan memperoleh kedudukan darinya. Ia minta izin. Ali menjawab: “Jangan engkau berikan izin kepadanya, berilah kabar gembira dengan api neraka. Dalam riwayat dikatakan kepada Ali Radhiyallahu anhu : “Sesungguhnya pembunuh Zubeir Radhiyallahu anhu berada di depan pintu. Kemudian Ali Radhiyallahu anhu berkata. Sungguh pasti pembunuh Ibnu Shafiyah di neraka [ash-Shahâbah 278]”

11.USAMAH BIN ZAID

Usamah bin Zaid bin Haritsah la juga biasa dipanggil Abu Muhammad. la memiliki gelar Hibb Rasulullah (jantung hati Rasulullah) dan Ibnu Hibb Rasulullah (putra dari jantung hati Rasulullah). Ayahnya adalah Zaid bin Haritsah r.a, anak angkat Rasulullah Saw yang sangat beliau cintai. Ibunya adalah Ummu Aiman, seorang budak hitam yang mengasuh Muhammad kecil dan dimerdekakan oleh Rasulullah Saw.

Zaid lebih memilih tinggal bersama Muhammad dari pada kembali kepada ayahnya, Haritsah. Setelah selesai Rasulullah Saw menyelesaikan haji Wada’, beliau mempersiapkan pasukan muslimin untuk menghadapi tentara Romawi. Tentara Romawi dengan sadis membunuh salah seorang kepala daerah mereka bernama Farwah bin Umar Al-Judzami ketika diketahui memeluk Islam. Di antara pasukan muslim terdapat pejuang Muhajirin dan Anshar, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Umar bin Khaththab ra. Abu Ubaidah bin Jarrah ra, Abul A’war Zaid bin Zaid, dan Sa’ad bin Abi Waqqash ra.

Dari sekian banyak muslimin yang andal dalam peperangan, Rasulullah Saw memilih Usamah bin Zaid ra yang masih muda belia untuk memimpin pasukan muslimin. Usamah ra waktu itu berusia 18 tahun Tentu saja hal tersebut menuai keheranan dan protes dari sebagian kaum muslimin yang meragukan kepemimpinan Usamah ra.

Mendengar gunjingan yang menyangsikan kepemimpinan Usamah r.a, Rasulullah Saw bersabda di hadapan kaum muslimin, “Wahai sekalian manusia, aku mendengar pembicaraan kalian mengenai pengangkatan Usamah. Apabila kalian meragukan kemampuannya dalam memimpin, mengapa kalian sebelumnya tidak meragukan kepemimpinan Zaid bin Haritsah, ayahnya? Demi Allah, jika ayahnya pantas menjadi seorang pemimpin, anak ini juga pantas menjadi pemimpin. Jika ayahnya seorang yang kucintai, anaknya juga orang yang paling kucintai sesudahnya. Mereka berdua adalah orang baik maka perlakukanlah Usamah dengan baik pula!”

Setelah teguran tersebut, kaum muslimin yang pada awalnya meragukan keputusan beliau segera bergabung dengan pasukan Usamah ra. Saat itu mereka hendak berangkat menuju Juraf di luar kota Madinah untuk membangun perkemahan sesuai dengan perintah Rasulullah Saw.

Sebelum berangkat, para pasukan terlebih dahulu menemui Rasulullah yang terbaring sakit. Ummu Aiman, menyarankan agar Usamah tidak diberangkatkan sampai beliau sehat agar tenang dalam perjalanannya. Namun, Rasulullah Saw. bersikeras dan berkata, “Biarkan Usamah berangkat sekarang juga!” Pasukan pun berangkat menuju Juraf dan bermalam di sana. Keesokan harinya, sebelum pasukannya bergerak, Usamah ra. menyempatkan diri untuk menengok Rasulullah Saw. yang sakitnya bertambah parah. Usamah ra. mencium wajah pucat Rasulullah Saw. dan beliau pun mendoakannya. Setelah itu, Usamah ra. kembali menuju pasukannya yang telah siap berangkat meninggalkan Juraf.

Namun, tiba-tiba berita duka menyergap seluruh pasukan muslimin. Seorang utusan Ummu Aiman membawa berita bahwa Rasulullah Saw telah tiada. Usamah ra. segera menghentikan pasukan dan menunda keberangkatannya. Bersama Umar bin Khaththab ra. dan Abu Ubaidah bin Jarrah ra., Usamah ra. kembali menuju kediaman Rasulullah Saw. diikuti oleh prajurit-prajuritnya. Setelah wafatnya Rasulullah Saw, umat Islam mengadakan musyawarah untuk mengangkat khalifah pengganti Rasulullah Saw. Mereka sepakat untuk mengamanahkan jabatan tersebut kepada Abu Bakar ra. Ia pun bertindak cepat untuk mengatur keberangkatan Usamah ra. Begitu pula, mengamankan kota Madinah. Pada waktu itu umat Islam ada yang setuju dan tidak setuju untuk keberangkatan pasukan Usamah, dengan alasan masing-masing. Menyikapi hal tersebut, Abu Bakar ra. memberikan pendapatnya, “Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, seandainya aku tahu akan dimakan binatang buas sekalipun, aku akan tetap mengirim pasukan ini ke tujuannya. Insya Allah, mereka akan kembali dengan selamat.

Bukankan Rasulullah Saw. telah memerintahkan untuk segera memberangkatkan pasukan Usamah?
Mengenai keamanan di Madinah, biarkan Umar bin Khaththab tetap tinggal bersamaku di sini untuk membantuku. Apakah kalian setuju dengan pendapatku?” Keyakinan kuat yang terpancar dari Abu Bakar ra menular ke seluruh kaum muslimin sehingga mereka menyetujui pendapatnya. Tanpa membuang waktu, Usamah ra. segera bersiap untuk berangkat bersama 3.000 orang prajurit, 1.000 orang di antaranya menunggang kuda. Abu Bakar ra. mendatangi mereka untuk melepas kepergian pasukan muslimin dengan doa keselamatan. Usamah ra. yang melihat Abu Bakar ra datang dengan berjalan kaki segera turun dari kudanya untuk memberikan tumpangan kepada sang Khalifah.

Namun, Abu Bakar ra segera mencegahnya dengan berkata, “Demi Allah, jangan turun, wahai Usamah! Aku ingin telapak kakiku ini dipenuhi debu sabilillah beberapa saat. Bukankah setiap langkah pejuang akan memperoleh imbalan tujuh ratus kebaikan dan menghapus tujuh ratus kesalahan?” Mereka pun berangkat diiringi doa dan duka mendalam. Meskipun Rasulullah Saw. telah tiada, hal itu tidak menyurutkan semangat jihad fi sabilillah yang berkobar dalam jiwa mereka dalam menyiarkan panji Islam.

Pasukan Usamah ra. bergerak cepat meninggalkan kota Madinah dan melalui beberapa kota yang masih tetap memeluk Islam. Di Wadil Qura, Usamah r.a mengirim Huraits dari suku Hani Adzrah untuk memantau keadaan di Ubna yang menjadi target mereka. Dari hasil pengintaiannya, ternyata penduduk Ubna tidak mengetahui kedatangan mereka dan tidak ada persiapan untuk berperang sama sekali. Ia pun mengusulkan kepada Usamah ra agar secepatnya melakukan serangan selagi musuh lengah. Usamah ra menyetujuinya dan segera menyusun strategi penyerangan. Hanya dalam empat puluh hari mereka dapat menaklukkan kota tersebut tanpa jatuh korban seorang pun dengan membawa harta rampasan perang yang besar ke Madinah.

Sejak saat itu sosok Usamah ra makin bersinar di mata kaum muslimin. Bahkan, Umar bin Khaththab ra memberinya hadiah lebih besar daripada apa yang ia berikan kepada putranya, Abdullah bin Umar ra. Ketika ditanya tentang perihal tersebut oleh putranya, Umar menjawab, “Usamah lebih dicintai Rasulullah Saw. daripada engkau dan ayahnya lebih disayangi daripada ayahmu!” Demikianlah sahabat bacaan madani kisah Usamah bin Zaid yang diangkat oleh Rasulullah Saw sebagai panglima perang dalam usia masih muda. Ini membuktikan bahwa semangat juang pemuda itu sangat berpengaruh dalam kehidupan bernegara

Demikianlah 11 jendral terhebat sepanjang sejarah islam, Semoga bisa menjadi teladan dan bermamfaat Bagi kita semua

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *